Jadilah Mujahidah, Jangan Jadi Feminis!
Namun ketika cinta telah merekat, hidup satu atap dan melihat langsung bagaimana dia sehari – hari, tak sedikit yang merasa salah memilih, menyesal karena terlalu cepat mengambil keputusan, walau ada juga yang saling menerima keadaan pasangan satu sama lain dan saling melengkapi, merekalah orang- orang pilihan Alloh yang istiqomah. Mereka memilih bukan atas dasar cinta yang instan, cinta yang buta, atas dasar lahiriah semata, tapi karena ketaatan mereka kepada Alloh sehingga terlahirlah kasih sayang karena Alloh.
Jemput bahagia diharimu, berikan ia cinta tulusmu. berikan ia senyum terbaikmu. Jadilah pendengarnya yang setia, tapi jangan berharap ia akan menjadi pendengarmu yang baik. menjadi pendengar yang baik itu memang gampang- gampang susah, apalagi setelah seharian lelah mengerjakan rutinitas sebagai ibu rumah tangga, dari bangun tidur sampai tidur lagi, begitu terlelap, tengah malam suami pulang dari tugasnya bekerja dan berdakwah. ia meminta kita mengurut badannya, memijit telapak kakinya..meminta dibuatkan teh..lalu mulai mengeluarkan kelelahannya dengan curhat dan meminta masukan dari istri. Belum lagi sikecil yang ngompol terus menerus karena masih bayi. Lelah sudah pasti, tapi jika tahu betapa Alloh akan meninggikan kemuliaan kita apakah semua letah dan letih itu masih terasa?
Lelah dan letih tersebut memang tak bisa dihilangkan, tapi dengan senyum dan berharap kebaikan Alloh maka lelah itu akan menjadi suatu nikmat yang luar biasa. Sering saya mengobrol dengan ibu- ibu tetangga, mereka dengan sangat semangat menceritakan pengalaman mereka mengasuh anak- anak hingga melayani suami, jarang sekali mereka bercerita dengan marah, kebanyakan mereka sambil tersenyum walau sesekali keluar keluhan dari bibir mereka, tapi mereka seolah menganggap itu hal yang wajar dan lumrah, yah memang beginilah pekerjaan wanita kalau sudah menikah apalagi punya anak. Singkat dan pasrah.
Disinilah pentingnya ilmu, agar tidak terjebak pada aktifitas kebanyakan ibu- ibu sekarang yang menganggap semua pekerjaan mulia itu sebagai hal yang wajar dan mereka pasrah mengerjakannya. Pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaaan paling mulia bagi seorang wanita, ia selalu berada didalam rumahnya, mengasuh anak dan mencetak mereka menjadi generasi selanjutnya, menyiapkan bekal untuk suami dan anak- anak, memfalitasi semua kebutuhan anggota keluarganya secara professional, seperti menjadi pegawai loundry yang sangat dermawan, menjadi clining servis setiap saat tanpa menagih gaji bulanan, menjadi derektur keluarga, sekretaris pribadi suami, bendahara keuangan, menjadi guru privat anak- anak, koki dengan keahlian masakan yang super enak dan hemat, menjadi sahabat yang tak akan menikam, dan masih banyak profesi lainnya yang ia sandang.
Itulah kenapa wanita adalah makhuk yang kuat, ia kuat memikul semua beban itu sendirian, dengan senang hati dan penuh percaya diri.ia tidak mengharapkan gaji bulanan, tapi berharap janji Alloh yang pasti kebenarannya.
Semangatnya juga bukan karena faktor pasrah semata menjalani takdirnya sebagai seorang istri dan ibu, tapi lebih indah dari itu, ia mempunyai tujuan yang mulia, yaitu mencari Ridho Alloh Swt. Semangatnya berdasarkan pada ajaran agama yang diyakininya, mencontoh kepada para ummul mukminun, para shahabiyah dan wanita- wanita sholekhah, ia tidak hanya pasrah pada keadaan yang seakan membelenggunya untuk melakukan aktifitas lain, tidak! Bahkan ia selalu haus akan ilmu, ia terus berusaha mendapatkannya, dimanapun..dirumahnya, dalam kajian- kajian halaqoh, atau ditempat lainya, ia ingin menjadi yang terbaik di hadapan Alloh dan Rosulnya dalam mempersembahkan Suami dan anak- anaknya menjadi pegiat dan pejuang di jalan Alloh.
Siapkah kita mendampingi suami dan anak- anak hingga memperoleh khusnul khotimah diakhir hayatnya? Bahkan syahid?
Temanilah mereka dalam hal kebaikan, tegaslah terhadap kemaksiatan, dan lemah lembutlah dalam memberikan nasehat kepada mereka. Bersabarlah dalam menemani perjuangan, ini bukan pilihan yang salah. Janganlah mengeluh atas kekurangannya mencukupi kebutuhan hidup. Jika dari awal sudah sepakat untuk berjuang dijalan Allah makan janganlah menggerutu jika suami jarang dirumah, jarang bermain bersama anak- anak, jarang memanjakan istri. Ia sedang berjuang mati- matian mempersiapkan jannah untuk keluarga. Bukan tidak mungkin ikut andilnya sang istri dan anak- anak dalam mendukung perjuangan suami dalam Dien ini secara otomatis telah melibatkan kita, dan Insyaalloh kita juga akan mendapatkan pahalanya.
Jadilah perempuan yang mandiri, tidak sedikit- sedikit minta tolong kepada suami untuk mengerjakan ini dan itu, sebisa mungkin berusaha untuk mengahsilkan uang sendiri melalui kreatifitas kita di dalam rumah, sebagai persiapan bekal jika sewaktu- waktu kita ditinggalkan oleh suami. Bagaimanapun juga kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Maka bersabarlah dan berkreasilah. Jadilah wanita yang kuat, kuat secara Aqidah juga kuat dalam kemandirian, dan untuk melakukan itu kita tetap tak perlu melabelkan diri kita feminis. Kita adalah Mujahidah bukan Feminis!
Oleh : Iqtina Khansa – Penulis adalah ibu rumah tangga dan istri dari rapper Thufail Al Ghifari
Red : Catalist Fi
Read more http://www.undergroundtauhid.com/jadilah-mujahidah-jangan-jadi-feminis/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar